MapleStory Finger Point

Rabu, 14 November 2012

CERPEN : Kata Maaf untuk Ayah

          Gemericik air itu terdengar di telingaku. Membentuk alunan nada yang indah lagi menyejukkan hati. Tetes demi tetes air membasuh tubuh ringkihnya, tangan, hidung, muka, rambut, telinga, dan kakinya. Setiap sepertiga malam terakhir, aku melihatnya terbasahi oleh air suci itu, air yang selalu membuatku terbangun karena suaranya yang merdu.
           Namun, aku bangun hanya sekedar untuk mendengarkan gemericik air itu. Aku tak bangun untuk mengikuti apa yang Ayah lakukan. Aku tak membasuh tubuhku dengan air itu dan aku pun tak melakukan tahajud seperti yang sekarang sedang dilakukannya. Rasanya tubuhku terasa enggan jika berpaling dari tempat tidur. Rasa lelah sehabis mengamen tadi sore masih ada di sekujur tubuhku. Aku masih ingin terlelap dan kembali ke alam mimpi. Namun, saat aku akan memejamkan mataku lagi, bisikan-bisikan perkataan itu terdengar jelas.
            “Aku heran kepadamu, Rul! Kau masih saja berbuat baik pada orang lain, membantu orang lain, tapi kau tak dapat apa-apa darinya. Serupiah pun kau tak dapat darinya. Kalau aku, ogah….!!” kata temanku, Reno setelah aku berhasil membantu nenek buta itu menyeberang jalan saat kami akan berangkat sekolah. Aku hanya tersenyum mendengarnya dan menjawab, “Kalau kita benar-benar ikhlas membantu orang lain, tak usah kita minta apapun darinya. Biarlah Allah yang membalas kebaikan kita, karena malaikat tak mungkin lupa tuk mencatat setiap kebaikan sekecil apapun, kata Ayahku seperti itu.” “Tapi jika kau masih terus membantu orang lain dan tak minta apa-apa, Kau tak akan pernah kaya. Kerjaanmu hanya mengamen, itu pun hanya setengah hari setelah pulang sekolah. Paling-paling hanya dapat lima ribu. Mana cukup! Pantas saja hidupmu melarat terus. Tidak seperti aku yang hampir kaya ini. Hahahaha…” Reno tertawa-tawa sambil membusungkan dadanya.
             Aku tak peduli apa yang sedang ditertawakannya. Tak ada yang lucu bagiku! Dan aku kembali menjawabnya dengan perkataan Ayah yang sudah sangat kuhafal. “Kata Ayahku, rezeki itu sudah ada yang mengatur, Ren. Jadi, kita hanya perlu berusaha dan ikhtiar agar bisa mendapatkannya, dan kita juga harus mensyukuri setiap apa yang Dia berikan.” Aku merasa puas bisa meladeni perkataan Reno tadi. Untung, aku punya sejumlah kata-kata Ayah yang sudah sangat ku hafal diluar kepala. Jadi, Reno tak mungkin bisa berkata-kata lagi. Namun, dugaanku salah. Reno masih tetap membalas perkataanku dan kali ini menyangkut pautkannya dengan Ayah. “Mengapa kau selalu menjawab omonganku dengan kata-kata Ayahmu itu? Aku tak butuh ceramah, nasehat, atau apalah dari Ayahmu. Memang kata-kata itu penting sekali bagimu sampai kau hafal seperti itu??”. Suaranya mulai meninggi.
             “Sejak ibuku meninggal, Ayah sangat penting bagiku, Ren. Jadi setiap kata yang dilontarkannya sangatlah berharga!” jawabku lantang. Namun, Reno malah menertawaiku lagi. “Apa katamu? Hahahaha.. Paling-paling itu hanya kata-kata penghibur diri kemiskinan kalian. Hahahaha.. Tadi kau bilang Ayahmu sangat penting bagimu? Apakah kau telah membahagiakannya? Dengan cara apa? Dengan hasil ngamenmu yang hanya segitu? Untuk makan saja tak cukup, apalagi untuk membahagiakan Ayahmu? Hahahaha.. Mustahil!”