MapleStory Finger Point

Sabtu, 23 April 2011

Hafalan Sholat Delisa



anak sekecil itu
berkelahi dengan waktu
demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal



Anak itu bernama Alisa Delisa. Ya, dia biasa dipanggil Delisa. Dia baru berusia 6 tahun. Delisa punya sifat yang lugu, polos, dan kritis. Delisa adalah anak bungsu dari Ummi Salamah dan Abi Usman. Dia punya tiga kakak yang sangat menyayanginya, mereka adalah Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Suatu hari, Delisa mendapat tugas untuk menghafal bacaan-bacaan sholat, yang selanjutnya akan di setor ke Ibu Guru Nur pada Hari Minggu, 26 Desember 2004. Delisa ingin sekali bacaan sholatnya sempurna, tidak lupa-lupa dan terbolak-balik seperti waktu sebelumnya. Delisa ingin hafal untuk kesempurnaan sholatnya, untuk sujud kepadaMu. Delisa ingin hafal, karena Ummi telah menyiapkan hadiah kalung emas 2 gram berliontin D untuk Delisa, karena Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus, dan Delisa benar-benar ingin hafal bacaan shalatnya. Delisa ingin ya Allah.

Sampai pagi itu saat Delisa menyetor bacaan sholatnya, saat ia sedang mempraktikkan shalatnya di depan kelas, di hadapan Ibu Guru Nur, seketika bumi terguncang, tanah merekah, gempa bumi 8,9 SR menimpa Aceh. Air laut teraduk, Tsunami menyusul menyapu daratan, menjadi tangan malaikat pencabut nyawa. Tapi Delisa ingin khusu’, terus melafadzkan hafalan sholatnya. Saat Delisa akan melaksanakan sujud pertamanya, Delisa roboh dan hanyut oleh terjangan air laut yang sangat kuat, dan akibatnya lutut Delisa menabrak gerbang sekolahnya. Sakit sekali. Shalat Delisa belum sempurna. Delisa kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya.

Hari itu adalah hari dimana semua perhatian tertuju pada Aceh. Korban mencapai 15.000 jiwa, mungkin bisa lebih. Termasuk Ummi, dan ketiga kakak Delisa juga menjadi korban. Beruntung Delisa bisa selamat karena Ibu Guru Nur mengikat Delisa pada sebuah papan dengan kerudungnya. Ya, Ibu Guru melakukan itu semua agar Delisa bisa selamat, meskipun dirinya akhirnya meninggal dunia. Sungguh ibu guru yang sangat mulia. Berhari-hari Delisa terbaring kaku di semak-semak, kaki dan tangannya patah, tapi gadis kecil ini masih bernafas. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidak.

Sampai akhirnya, Angkatan Laut Amerika menemukan Delisa. Delisa harus dirawat. Dalam perawatannya, beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. Sampai ketika seorang ibu yang di rawat di sebelahnya melakukan sholat tahajud. Pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat Delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. Tapi, kaki Delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. Luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan.

Kakak-kakaknya yang meninggal dunia dan Umminya yang belum ditemukan jasadnya juga tak membuat Delisa berputus asa. Delisa ikhlas menerima semuanya. Delisa benar-benar ikhlas menerima cobaan yang berat ini. Cobaan yang diterima oleh anak yang baru berusia 6 tahun!! Anak yang belum mengerti arti kehilangan. Tapi, Delisa bisa menjalaninya dengan ikhlas. Delisa ingin menghafal bacaan sholatnya lagi. Tapi, ia susah untuk menghafalnya. Benar-benar tampak lebih rumit dari sebelumnya. Lupa, Delisa sudah benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Ia juga lupa akan kalung berliontin D untuk Delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan Abi. Delisa hanya ingin hafal bacaan sholatnya lagi.

“orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa… Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan…”

Bukan karena Allah, tapi karena sebatang coklat, sebuah kalung berliontin D untuk Delisa, dan untuk sepeda. Dan malam itu, Allah mengizinkan Delisa untuk mengingat kalung itu. Delisa bermimpi bertemu dengan Umminya, yang menunjukkan kalung itu dan memintanya untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya lagi. Dan akhirnya Delisa bisa hafal bacaan shalatnya, seperti dulu, ia juga akhirnya bisa melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya. Delisa akhirnya bisa sujud kepada-Mu dengan sempurna. Sujud yang belum sempat ia lakukan ketika tsunami menerjangnya. Sekarang ia benar-benar bisa sujud dengan sempurna, tanpa ada bacaan yang terlupa dan terbalik. Hafalan sholat karena Allah. Bukan karena hadiah kalung dari Ummi, sebatang coklat, ataupun hadiah sepeda dari Abi. DELISA MELAKUKANNYA BENAR-BENAR KARENA ALLAH.

Tapi pada akhirnya, hadiah itu datang dengan izin-Nya. Saat setelah ia melakukan shalat sempurnanya, Delisa pergi ke tepian sungai. Ia melihat ada pantulan cahaya matahari sore dari sebuah benda, cahaya itu menarik perhatian Delisa untuk mendekat. Tak disangka, benda itu adalah kalung yang berhuruf D, D untuk Delisa. Delisa yakin itu adalah kalung yang dijanjikan Ummi. Kalung yang belum sempat diberikan kepadanya. Kalung untuk hadiah hafalan shalatnya. Kalung yang sedang ada pada genggaman benda putih, genggaman tulang manusia. Ya, itu adalah Ummi Delisa. Delisa benar-benar terkejut! Ia segera mengambil kalung itu yang ada di tengah sungai. Seketika itu tubuh Delisa yang kecil terjerembab jatuh ke sungai. Dan, malaikat yang sedari tadi ada di sekelilingnya, malaikat yang menjadi saksi kejadian itu, bertasbih kepada-Nya. Dan malaikat-malaikat kembali ke langit. Semua urusan sudah selesai! Kini, Delisa sudah bertemu lagi dengan Cut Fatimah, Cut Zahra, Cut Aisyah, dan Ummi yang sangat dicintainya karena ALLAH. Subhanallah...!!


(Ini adalah sebuah novel karangan Tere-Liye (nama pena). Novel yang bisa membuatku tak henti-hentinya menangis saat membacanya. Novel yang mengajariku makna keikhlasan dan ketulusan hati. Melakukannya semata-mata karena Allah. Delisa yang baru berusia 6 tahun, bisa bertahan dalam shalatnya walaupun tsunami datang, ia tetap ingin khusyu’. Beda dengan aku Ya Allah, sholat saja tak bisa khusyu, malah mikir yang lain-lain dalam shalat.

Delisa, anak sekecil itu tak mengeluh walaupun cobaan datang tertubi-tubi. Kakinya yang harus diamputasi, kakak-kakaknya yang meninggal dunia, dan Umminya yang belum ditemukan jasadnya. Tapi, aku yang sedikit saja diberi cobaan langsung mengeluh dan putus asa. Ya Allah, HambaMu ini benar-benar malu sekali pada Delisa, anak sekecil itu Ya Allah.

Sungguh, novel ini benar-benar mengajariku segalanya. Mengajariku untuk menjalani hidup lebih baik, tabah menghadapi cobaan, dan yang terpenting bisa menjalani apapun dengan ikhlas semata-mata hanya karena ALLAH.)

“Delisa sayang Ummi karena Allah.”
“Delisa sayang Abi karena Allah.”

Rabu, 20 April 2011

Dalam Sebuah Ukhuwah Islamiah

















Pikirkan dan Syukurilah!




Artinya, ingatlah setiap nikmat yang Allah telah dianugerahkan kepada kita, karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.
{Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup
menghitungnya.}

(QS. Ibrahim: 34)

Kesehatan badan, keamanan negara, sandang pangan, udara dan air, semuanya tersedia dalam hidup kita. Namun begitulah, kita memiliki dunia, tetapi tidak pernah menyadarinya. Kita menguasai kehidupan, tetapi tak pernah mengetahuinya.
{Dan, Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.}
(QS. Luqman: 20)

Kita memiliki dua mata, satu lidah, dua bibir, dua tangan dan dua kaki.
{Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?}
(QS. Ar-Rahman: 13)

Apakah kita mengira bahwa, berjalan dengan kedua kaki itu sesuatu
yang sepele, sedang kaki seringkali bengkak bila digunakan jalan
terus menerus tiada henti? Apakah kita mengira bahwa berdiri tegak di
atas kedua betis itu sesuatu yang mudah, sedang keduanya bisa saja tidak
kuat dan suatu ketika patah?
Maka sadarilah, betapa hinanya diri kita manakala tertidur lelap, ketika sanak saudara di sekitar kita masih banyak yang tidak bisa tidur karena sakit yang mengganggunya? Pernahkah kita merasa nista manakala dapat menyantap makanan lezat dan minuman dingin saat masih banyak orang di sekitar kita yang tidak bisa makan dan minum karena sakit?

Coba pikirkan, betapa besarnya fungsi pendengaran, yang dengannya Allah menjauhkan kita dari ketulian. Coba renungkan dan raba kembali mata kita yang tidak buta. Ingatlah dengan kulit kita yang terbebas dari penyakit lepra dan supak. Dan renungkan betapa dahsyatnya fungsi otak
kita yang selalu sehat dan terhindar dari kegilaan yang menghinakan. Adakah ingin menukar matanya dengan emas sebesar gunung Uhud, atau menjual pendengaran yang kita miliki seharga perak satu bukit? Apakah Ada yang mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah yang kita miliki, hingga bisu? Maukah kita menukar kedua tangan dengan untaian mutiara, sementara tangan menjadi buntung?

Begitulah, sebenarnya kita berada dalam kenikmatan tiada tara dan kesempumaan tubuh, tetapi kita tidak menyadarinya. Kita tetap merasa resah, suntuk, sedih, dan gelisah, meskipun kita masih mempunyai nasi hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat. Kita seringkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga kita pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa kita mudah terguncang hanya karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya kita masih memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian, karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan kemudian syukurilah!
{Dan, pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan.}
(QS. Adz-Dzariyat: 21)

Pikirkan dan renungkan apa yang ada pada diri, keluarga, rumah, pekerjaan, kesehatan, dan apa saja yang tersedia di sekelilingmu. Dan janganlah termasuk golongan orang-orang yang tidak bersyukur.
{Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.}
(QS. An-Nahl: 83)

Senin, 18 April 2011

Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang




Kejujuran itu kekasih Allah. Keterusterangan merupakan sabun pencuci hati. Pengalaman itu bukti. Dan seorang pemandu jalan tak akan membohongi rombongannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.
{Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.}
(QS. Al-Baqarah: 152)

Berdzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka, siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak akan dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari berbagai kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Dan dzikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kernenangan dan kebahagian hakiki. Untuk melihat faedah dan manfaat dzikir, coba perhatikan kembali beberapa pesan wahyu Allah. Dan cobalah mengamalkannya pada hari-harimu, niscaya kau akan mendapatkan kesembuhan.
Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan dan kesedihan akan sirna. Bahkan, dengan berdzikir kepada-Nya segunung tumpukan beban kehidupan dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya. Tidak mengherankan bila orang-orang yang selalu mengingat Allah senantiasa bahagia dan tenteram hidupnya. Itulah yang memang seharusnya terjadi. Adapun yang sangat mengherankan adalah bagaimana orang-orang yang lalai dari berdzikir kepada Allah itu justru menyembah berhala-berhala dunia. Padahal,
[(Berhala-berhala) itu mati tidak hidup dan berhala-berhala itu tidak mengetahui
bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan.]

(QS. An-Nahl: 21)

Wahai orang yang mengeluh karena sulit tidur, yang menangis karena sakit, yang bersedih karena sebuah tragedi, dan yang berduka karena suatu musibah, sebutlah nama-Nya yang kudus!
{Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut
disembah)?}

(QS. Maryam: 65)

Semakin banyak kita mengingat Allah, pikiran kita akan semakin terbuka, hati kita semakin tenteram, jiwa kita semakin bahagia, dan nurani kita semakin damai sentosa. Itu, karena dalam mengingat Allah terkandung nilai-nilai ketawakalan kepada-Nya, keyakinan penuh kepada- Nya, ketergantungan diri hanya kepada-Nya, kepasrahan kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan pengharapan kebahagiaan dari-Nya. Dia senantiasa dekat ketika si hamba berdoa kepada-Nya, senantiasa mendengar ketika diminta, dan senantiasa mengabulkan jika dimohon. Rendahkan dan tundukkan dirimu ke hadapan-Nya, lalu sebutlah secara berulang-ulang nama-Nya yang indah dan penuh berkah itu dengan lidahmu sebagai pengejawantahan dari ketauhidan, pujian, doa, permohonan dan permintaan ampunanmu kepada-Nya. Dengan begitu, niscaya kau, berkat kekuatan dan pertolongan dari-Nya, akan mendapatkan kebahagiaan, ketenteraman, ketenangan, cahaya penerang dan kegembiraan. Dan,
{Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia, dan pahala yang
baik di akhirat.}

(OS. Ali 'Imran: 148)

Sabtu, 16 April 2011

CINTA YANG HAKIKI





“rasa cinta dan kasih sayang akan nampak dan akan semakin membesar ketika orang yang dicintai berada jauh dari yang mencintai.”

“cinta yang sejati adalah cinta yang tempat dan waktu tidak dianggap sebagai penghalang kapanpun, dimanapun cinta tetap cinta.”

“cinta yang hakiki adalah cinta kita kepada makhluk Allah, karena Allah swt”
“kalau cinta kita karena Allah, maka waktu dan tempat tidak akan jadi penghalang bagi sang pecinta.”

“kalau kita mencintai seseorang karena Allah swt, maka kita tidak mendapat sesuatu keculai kebahagiaan dan kecintaan yang sejati dan itu adalah tujuan yang diinginkan para pecinta yang hakiki.”

“cinta kita harus lebih dahsyat kepada yang kita cintai dari cinta kita sebelumnya kalau kita mengetahui bahwa yang kita cintai mendekat kepada Allah.”

“jika semakin dekat cintanya kepada Allah maka cinta kita kepadanya harus semakin besar dan semakin dahsyat.”

“jauhnya kita dengan orang yang kita cintai demi untuk kembalinya kita dan untuk tinggalnya kita bersamanya adalah lebih baik daripada dekatnya kita dengan orang yang kita cintai tetapi untuk jauhnya kita darinya.”

“bagi para pecinta yang sejati yang kecintaannya karena Allah maka ketika yang dicintai pergi, kesepian tidak akan bisa mengganggunya karena cintanya bukan sepenuhnya karena orang yang dicintai akan tetapi cintanya sepenuhnya karena Allah sedangkan Allah selamanya selalu ada.”